REPOSITORY Umumindonesia2006

PETUNJUKPRAKTISPENCEGAHANKECELAKAAN DALAMPROSESPEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANIDISEKOLAHMENENGAHPERTAMADAN ATAS

Yustinus Sukarmin, Yustinus Sukarmin · Universitas Negeri Yogyakarta

Abstrak / Ringkasan

Abstract
Accidents are not desirable. It makes someone lose their time, their wealth, and it can
cause injury, cripple and even death. It can happens anywhere, at anytime, on anyone.
Accident can happen on student when the sport lesson held.
Sport lesson compared with other lessons, considering the characteristic, are accidentprone.
Taking into account the level of physical and technique of junior and senior high
school pupils, the likelihood of the accident increased. To prevent those accident and the
effects afterward, the teacher must identify the sources.
Accident in sport lesson can be caused by internal factor (intrinsic), e.g. exhausted, harumscarum,
lack of skill and not having adequate pre-game warm-up and stretching. Other
possibilities are came from outside factors (extrinsic), e.g. poor equipment and facilities,
bad weather, terrible location, inadequate referee.
Keyword: accident, sport lesson, Junior and senior high school.
PENDAHULUAN
Mata pelajaran pendidikan jasmani (penjas) mempunyai karakteristik yang berbeda
dengan mata pelajaran lainnya dan ini membawa konsekuensi pada perbedaan dalam
proses pembelajarannya. Aktivitas fisik yang menjadi media utama proses pembelajaran
penjas, alat, fasilitas, dan arena tempat berlangsungnya proses pembelajaran penjas
mengandung risiko terjadinya kecelakaan yang tinggi. Bermain, olahraga, dan bentukbentuk
aktivitas fisik lainnya yang dilakukan di lapangan terbuka atau tertutup potensial
sekali mendatangkan kecelakaan. Kemungkinan terjadinya kecelakaan makin ter- buka
lebar ketika proses pembelajaran itu berlangsung di sekolah menengah pertama (SMP)
dan sekolah menengah atas (SMA). Dalam uraian selanjut- nya digunakan istilah sekolah
menengah (SM) untuk menyebut keduanya.
72 JPJI, Volume 5, Nomor 1, April 2006
--
Petunjuk Praktis Pencegahan Kece/akaan da/am Proses Pembe/ajaran Pendidikan
Jasmani d~Seko/ah Menengah Pertama dan Atas
8iswa-siswa 8M masih tergolong muda dengan usia berkisar antara 13-18 tahun.
Kemampuan fisik dan tekniknya masih sangat terbatas, karena mereka sedang dalam
masa pertumbuhan. Pada masa ini hormon laki-Iaki belum cukup untuk menimbulkan
hipertrofi otot secara nyata dan pusat per- tumbuhan tulang (epiphyseal growth centre)
masih lemah. Karena tulang, otot, tendo, dan ligamen mereka sedang berkembang, mereka
menjadi lebih rentan terhadap cedera (Congeni, 2002: 4).
Muller (2004: 4) dalam penelitiannya melaporkan sebanyak 22 orang siswa sekolah
menengah mengalami cedera ka~astropik langsung selama mengikuti football musim
gugur tahun 2002. Dari 22 orang yang mengalami cedera katast~opik langsung, 3 orang
meninggal dunia, 6 orang mengalami ketidakmampuan fungsional permanen, dan 11
orang lainnya mengalami cedera yang amat serius.
Kecelakaan dalam proses pembelajaran penjas dapat mengakibatkan siswa
mengalami kerugian materi, kehilangan waktu, cedera, cacat, atau bahkan kematian.
Kerugian materiel akibat kecelakaan yang harus dialami oleh siswa sangat besar
jumlahnya. Jumlah itu, bahkan menjadi tidak ter- hitung besamya kalau cacat fisik dan
mental yang bersifat permanen, seperti: kehilangan tangan, kehilangan kaki, dan kehilangan
ingatan diper- hitungkan sebagai bagian dari biaya kecelakaan.
Kendatipun banyak keuntungan yang dapat dipetik dari program penjas di sekolah,
tetapi tidak sedikit orang tua yang mengajukan somasi agar program kegiatan tersebut
dikurangi atau dihilangkan sama sekali (Moeslim, 1974: 35). Pendapat mereka tentu bukan
tanpa alasan, namun terasa emosional dan tidak rasional. Berbagai kasus kecelakaan
yang terjadi di dalam praktik pembelajaran penjas beserta akibatnya menjadi pendorong
mereka membuat pemyataan seperti itu. Dari hasil survai Gunanto (1998: 9) diperoleh
informasi bahwa angka kecelakaan dalam proses pembelajaran penjas cukup tinggi dan
ini dapat memperkuat tuntutan mereka.
Memberikan jaminan keselamatan dengan eara membatasi atau bahkan meniadakan
program penjas bukan merupakan tindakan yang bijaksana dan jelas tidak akan
menyelesaikan masalah. Yang lebih utama adalah mencari akar permasalahannya, yaitu
penyebab terjadinya kecelaka-an dalam proses pembelajaran penjas dan memberikan
solusinya.
KECELAKAAN DALAM PENJAS
Penjas merupakan proses pendidikan yang bertujuan untuk memper- baiki kinerja
dan meningkatkan perkembangan manusia dengan mengguna- kan media aktivitas
jasmani yang terpilih untuk merealisasikannya (Wuest dan Bucher, 1995: 6). Banyak macam
dan bentuk aktivitas jasmani yang dapat digunakan sebagai media bagi proses
pembelajaran penjas di sekolah, seperti: bermain, berbagai cabang olahraga, dan aktivitas
jasmani lainnya.
8emua cabang olahraga yang dijadikan sebagai media pembelajaran penjas di sekolah
mempunyai potensi menimbulkan kecelakaan yang tinggi. Besar-kecilnya risiko cedera yang
ditimbulkan oleh kecelakaan bergantung pada jenis olahraga yang dilakukan dan pihakpihak
yang terlibat dalam kegiatan tersebut, yakni guru dan murid (Healey, 1996: 98).
JPJI, Volume 5, Nomor 1,Apr1l2006

Sitasi

RIS BibTeX
Recommendation Engine

Referensi Serupa

REPOSITORY2006

PETUNJUKPRAKTISPENCEGAHANKECELAKAAN DALAMPROSESPEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANIDISEKOLAHMENENGAHPERTAMADAN ATAS

Yustinus Sukarmin, Yustinus Sukarmin

99% mirip
REPOSITORY2013

IDENTIFIKASI CEDERA DAN FAKTOR PENYEBABNYA DALAM PROSES PEMBELAJARAN PENJAS DI SEKOLAH DASAR NEGERI PADA KECAMATAN BANYUURIP KABUPATEN PURWOREJO

Purna Widarti Rahayu, PWR

99% mirip
REPOSITORY2013

TINGKAT PEMAHAMAN GURU PENJASORKES SEKOLAH NEGERI SE-KECAMATAN BAMBANGLIPURO TERHADAP FAKTOR – FAKTOR PENYEBAB CEDERA PADA SAAT PEMBELAJARAN

Matho Yani Irfa, Matho YI.

99% mirip
REPOSITORY2014

UPAYA PENCEGAHAN CEDERA OLEH GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI DI SEKOLAH DASAR NEGERI SE-KECAMATAN GODEAN

Dinar, Widyaningrum

99% mirip
REPOSITORY2013

PERSEPSI GURU PENDIDIKAN JASMANI DAN KESEHATAN SEKOLAH NEGERI se-KECAMATAN SEWON DALAM PENANGANAN DINI CEDERA OLAHRAGA DENGAN REST ICE COMPRESS ELEVATION

Asep Wicaksono, Asep W.

99% mirip
REPOSITORY2012

TINGKAT PEMAHAMAN GURU PENDIDIKAN JASMANI DAN KESEHATAN SEKOLAH NEGERI SE-KBUPATEN BANTUL TERHADAP PENYEBAB KLASIFIKASI DAN JENIS CEDERA SAAT BEROLAHRAGA

Agung Prasetia, Agung P.

99% mirip
REPOSITORY2013

IDENTIFIKASI CEDERA DAN PENANGANAN CEDERA SAAT PEMBELAJARAN PENJASORKES DI SEKOLAH DASAR SE - KECAMATAN MREBET KABUPATEN PURBALINGGA

Baskoro, Pandu Aji

99% mirip
REPOSITORY2013

IDENTIFIKASI TINGKAT KESULITAN PROSES PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 NGAGLIK SLEMAN

Ichsan, Ichsan Kurniawan

99% mirip
REPOSITORY2012

PENGETAHUAN GURU PENDIDIKAN JASMANI DAN KESEHATAN SEKOLAH NEGERI SE-KECAMATAN BANTUL DALAM PENANGANAN DINI CEDERA OLAHRAGA DENGAN REST ICE COMPRESSION ELEVATION

Satriya Wicaksana, Satriya W.

99% mirip
REPOSITORY2012

ANALISIS KESESUAIAN PROSES PEMBELAJARAN PENJASORKES BERDASARKAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DI SMP NEGERI SE-KECAMATAN PANDAK

Rusdiyanto

99% mirip
REPOSITORY2012

FAKTOR YANG MENDUKUNG PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI SE-KABUPATEN BANTUL

Agus Susanto

99% mirip
REPOSITORY2010

KOMUNIKASI SISWA DENGAN GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 BANGKINANG SEBERANG

Ali Akbar

99% mirip
Sumber yang Sama

Literatur Lain dari Universitas Negeri Yogyakarta

Bacaan Lanjutan

Literatur Terbaru yang Relevan